Skip to main content

Mengenang Arnold Clemens ApRoh dan semangat mu hidup dan mengalir di darah orang bangsa Papua.


                     Arnold C Ap 1984-2021



Untuk mengenang semangat Arnold C Ap
bagi musisi bergerak cover lagu 
bagi guru ukir sejarah di kelas
bagi awam mencoba mengetahui
bagi AMP aksi di seluruh Indonesia
ada yang buat poster upload di story
ada yang menangis 
ada yang belajar
ada yang menulis
bagi akar rumput menyaksikan
bagi pejuang menambah semangat
dan berekspresi dalam bentuk apapun.

Berdasarkan UUD Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan BAB I Pasal 1 ayat 3 tentang "Literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya" Dan Mengunakan hak personal untuk kontribusi sejarah dalam bentuk tulisan.

Perjuangan bangsa Papua Barat untuk  nasib sendiri tidak terlepas juga dari budayawan.

"Pada 26 April 1984, Arnold Clemens Ap seorang musisi pendiri grup musik dan tari  Mambesak terbunuh oleh Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandah) atau yang kini lebih dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopasus) di Pantai Base-G Kota Jayapura, Papua.
Semasa hidup Arnold dikenal sebagai seorang Seniman dan Budayawan.  Mambesak  musik dengan irama tradisional keseluruh tanah Papua dalam kurun waktu 1978-1984. Ada beberapa cara yang digunakan Arnol Ap bersama kawan-kawannya di Mambesak, pertama merekam dan memproduksi album lagu Mambesak Volume I hingga V dalam bentuk kaset pita. Produksi tersebut bahkan dilakukan berulang kali karena diminati dan tersebar luas di seluruh Tanah Papua.

Sejak itu Arnold dan teman-temannya mendirikan sebuah  grup musik dan tari sekitar 1972. Awalnya Grup itu mereka berinama Manyori atau Burung Nuri  yang dianggap Burung Suci oleh suku Biak. Namun dengan berbagai masukan serta pertimbangan dari banyak sahabat, mereka lalu memilih sebuah nama yang masih dari bahasa Biak yaitu Mambesak atau Burung Cenderawasih.

Eksistensi Mambesak dalam bidang musik, seni, dan budaya membuat seorang Arnold Ap dikenal luas di Papua. Ratusan hingga ribuan musik karya mereka telah diproduksi menjadi Kaset dalam beberapa volume dan dijual secara luas diseluruh Papua waktu itu. Membesak tidak sulit mendapat tempat di hati para pecinta musik Papua karena menyanyikan lagu dengan hampir semua bahasa suku di Papua, dengan perpaduan antara gitar, ukuele, dan tifa, irama yang digemari rakyat Papua, yang dalam Ilmu Anthropologi serta musikologi dikenal dengan Folksong
Pengaruhnya yang luas bersama Mambesak, sekaligus menjabat Kurator Museum Uncen bahkan penangungjawab dua siaran radio di RRI menimbulkan keresahan bagi beberapa kelompok dan membuat dirinya mulai tidak disukai terutama oleh Angkatan Bersenjatah Republik Indonesia (ABRI). Arnold di curigai menjadikan Mambesak sebagai separatisme “gaya baru”, dan dengan semua aktivitasnya itu dituding sebagai propaganda politik untuk memprovokasi rakyat Papua menentang Indonesia.

Terlebih lagi saat itu di Papua ada seorang eks Tentara Nasional Indonesia (TNI) asal Biak bernama Zet Jafeth Rumkorem, yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan Republik Papua Barat dipinggiran Kota Jayapura yang dikenal dengan Markas Viktoria pada 1 Juli 1971. Suatu peristiwa Politik yang semakin menambah tingginya operasi militer ABRI di Papua. Nama-nama operasi militer  untuk penumpasan Organisasi Papua Merdeka tersebut,  antaralian:  Operasi pamungkas (1970-1974), operasi kikis (1977-1978), operasi sapu bersih (1978-1982), Operasi Sate (1984) dan masih banyak lagi Operasi-operasi militer yang sudah semenjak tahun 1963 hingga 1998  gencar di seluruh Tanah Papua.

Arnold Ap  lalu dikaitkan memiliki hubungan dengan kelompok Zet Rumkorem tersebut sehingga harus disingkirkan. Walaupun sampai sekarang tuduhan tersebut tidak pernah terbukti dan tidak mampu dibuktikan oleh ABRI. Arnold ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Polisi Daerah Papua (Polda) bersama sepupunya yang juga anggota Mambesak dan Staf Kampus Fisip-Uncen bernama Edy Mofu 30 November 1983, mereka ditahan berbulan-bulan tanpa pernah diadili di Pengadilan.
Pada malam 21 April 1984 seorang anggota polisi bernama Pius Wanem “membujuk” Arnold Ap untuk melarikan diri dari Rumah Tahanan Polda Papua di APO Kota Jayapura. Malam hari ketika sel rumah tahanan itu dibuka lima orang tahanan diantanya Arnold Ap , Edy Mofu, Agustinus Runtumboi (Sekretaris Desa Nolokla, Setani), Alex Membri, Johanis C. Rumainum (Mahasiswa Fisip-Uncen) melarikan diri.

Perlahan-lahan mereka meninggalkan lingkungan Polda Papua menuju kearah belakang Gedung Olaraga (GOR) Cenderawasih, disana telah menunggu sebuah mobil Toyoya. Alex Mebri memilih tidak ikut bersama mereka dan hilang di kegelapan malam. Mobil itu lalu melarikan mereka ke Base-G sebuah kawasan pantai Wisata dibagian utara Kota Jayapura.
Sesampianya disana para tahanan lalu melepaskan pakaian dan berenang untuk mengapai sebuah perahu kecuali Edy Mofu. Dengan kondisi lautan yang bergelombang di malam itu Edy Mofu tidak dapat mengapai perahu. Setelah menunggu beberapa lama, mereka memutuskan untuk ke Pasir 6 sebuah lokasi arah barat Kota Jayapura. Keesokan harinya didapati kabar bahwa jasat Edy Mofu ditemukan warga lengkap dengan pakaian yang dikenakan.

Arnold Ap bersama kedua rekannya menunggu selama tiga hari di Pasir 6 dengan harapan akan ada jemputan yang melarikan mereka menuju  Provinsi Vanimo, Papua New Guinea (PNG), disana anak dan istrinya telah menunggu.

Namun naas, dihari keempat, saat berada dibibir pantai perahu yang sering digunakan warga untuk mengantar makanan pada mereka telah dipenuhi oleh Kopasanda. Arnold tidak kuasa menghindari sergapan, tiga tembakan menyasar di perut dan lengan kanannya. Dengan terluka dia digelandang keatas perahu dan dilarikan kembali ke Base G. Dua orang perawat dari Rumah Sakit Aryoko telah menunggu dengan peralatan medis di Base G namun menemukan bahwa dia telah tewas sebab pendarahanl, tak 
membawah perubahan dan nilai positif bagi peradaban manusia Papua, itu menjadi bukti 
kuat bahwa otonomi khusus telah GAGAL di Papua".( sumber AMP sejadetabek)

power penulis

1. admin (Hak penulis)
2. Aliansi mahasiswa Papua (AMP)
3. Papua Songs Band
4. Edukasi.

Comments

Popular posts from this blog

Pikiran Gusdur:Hak pendidikan dan karakter

                                                       Oleh: Evis Yoman Berdasarkan...... ”prinsip penyelenggaraan pendidikan BAB III pasal 4 (1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”. Maka setiap warga negara dari sabang sampai merauke memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, adil atau setara tanpa diskriminatif dan menghidupkan nilai-nilai yang dihanut oleh bangsa ini sebelum negara repoblik indonesia terbentuk  sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.  Menurut gusdur “Pendidikan yang selama ini mengedepankan ranah kognisi (pengetahuan) belaka harus diubah melalui penyeimbangan pengetahuan dengan sikap dan keterampilan. Hal ini bertujun agar pendidikan mampu melah...